Bandar Lampung – Matahari pagi mulai condong di sisi timur, membiaskan sinar hangat di atas hamparan rumput sintetis Lapangan Soccer Field, Jumat (30/10/2026). Di sana, senyum lebar dan gelak tawa membaur bersama deru napas terengah-engah dari para pemain yang berkeringat. Tak ada jarak protokoler, tak ada sekat kaku. Yang ada hanya keriuhan khas lapangan hijau.

​Di tengah riuhnya permainan, sosok Al Muzammil Yusuf menyedot perhatian. Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu tampak begitu menikmati alur si kulit bundar. Usia boleh saja terus bertambah, namun langkah kakinya di atas lapangan membuktikan bahwa semangat berolahraga tak pernah mengenal kata surut.

Menghadapi Tim PWI Lampung yang dihuni para wartawan kawakan berusia di atas 35 tahun, politisi senior ini tetap tampil gigih dan sigap bersaing. ​Pertandingan persahabatan mini soccer itu memang menjadi oase segar di sela agenda padat Al Muzammil di Lampung, usai menggelar sosialisasi Empat Pilar.

Sejak peluit pertama melengking, tensi pertandingan berlangsung hangat sekaligus menghibur. PKS FC membuka keunggulan lebih dulu melalui skema serangan cepat yang mengejutkan lawan.

Namun, anak-anak PWI Lampung tak panik. Dipimpin Randes dan kawan-kawan, mereka merespons dengan permainan sabar—mengalirkan bola dari kaki ke kaki, mengandalkan umpan-umpan pendek yang terukur. Strategi ofensif yang tenang itu akhirnya berbuah manis saat bola bersarang di jaring PKS FC, mengubah papan skor menjadi 1-1.

​Gol penyeimbang tersebut seolah menjadi pemantik api semangat. Jual beli serangan berlanjut sengit dari pertengahan babak pertama hingga babak kedua usai.

Momen demi momen tercipta: operan kolektif yang padu, gocekan mengolah bola, hingga peluang-peluang emas yang kerap disambut sorak-sorai dari pinggir lapangan. Keduanya bertarung kompetitif, namun tetap memegang teguh batas-batas sportivitas.

​Hingga game demi game usai, papan skor akhirnya mencatatkan angka 9-4 untuk keunggulan Tim PWI Lampung. Namun saat peluit panjang dibunyikan, angka-angka itu seolah tak lagi berbobot. Yang tertinggal di lapangan hanyalah pelukan hangat, jabat tangan erat, dan keakraban yang kian terjalin.

​Sebagai bentuk apresiasi atas kebersamaan tersebut, Al Muzammil secara simbolis menyerahkan bantuan berupa bola dan rompi tim—sebuah gestur sederhana yang menandai dukungannya terhadap gaya hidup sehat dan aktif.

​Pagi itu, di balik tiga belas gol yang tercipta dan keringat yang menetes, lapangan Soccer Field menjadi saksi sebuah pesan sederhana: bahwa olahraga adalah bahasa universal. Ia mampu meruntuhkan sekat formalitas, mempererat silaturahmi, dan merajut kebersamaan tanpa peduli berapa usia di atas kertas. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *