BANDAR LAMPUNG, (inforial.co) — Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan Lampung angkatan 2025 menggelar seminar Bahasa dan Budaya Lampung secara daring melalui Zoom, Jumat (30/10/2026). Mengangkat isu pelestarian bahasa dan budaya di era digital, kegiatan ini menjadi seminar pertama yang diselenggarakan mahasiswa program magister tersebut.

 

Seminar ini merupakan bagian dari pelaksanaan mata kuliah Seminar Bahasa dan Budaya Lampung yang diampu oleh Dr. Munaris, M.Pd., Dr. Siti Samhati, M.Pd., dan Dr. I Wayan Ardi Sumarta, M.Pd.

 

Kegiatan dibuka oleh Dr. Munaris, M.Pd. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa seminar tersebut merupakan inisiatif mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan Lampung angkatan 2025 sebagai bagian dari kegiatan akademik mata kuliah Seminar Bahasa dan Budaya Lampung. Ia juga menyebutkan bahwa kegiatan ini baru pertama kali dilaksanakan.

 

Seminar menghadirkan dua narasumber, yakni David Novian Mastur, S.Sos., mahasiswa pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ) sekaligus penerima Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), serta Andriansyah, S.Sos., M.Pd., dosen S1 Pendidikan Bahasa Lampung.

 

Dalam pemaparannya, David mengangkat tema “Tantangan Generasi Muda dalam Mempertahankan Budaya di Era Digital.” Ia menekankan bahwa budaya Lampung bukan sekadar warisan yang dipertontonkan, melainkan nilai kehidupan yang perlu terus dihidupkan dalam keseharian masyarakat.

 

David menjelaskan pentingnya menghidupkan kembali empat pilar Piil Pesenggiri, yaitu Bejuluk Beadek, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, dan Sakai Sambayan. Keempat nilai tersebut mencerminkan kehormatan dan integritas identitas, keramahan dan keterbukaan, fleksibilitas dalam pergaulan, serta semangat kebersamaan dan gotong royong.

 

Ia juga menyoroti pergeseran nilai di era algoritma, ketika ukuran sosial semakin sering dikaitkan dengan angka statistik seperti jumlah penonton, tanda suka, dan pengikut di media sosial. Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi cara generasi muda berinteraksi dan memaknai budaya.

 

Menurut David, generasi muda tidak perlu menolak perkembangan teknologi. Sebaliknya, teknologi digital dapat dimanfaatkan sebagai sarana pelestarian budaya. Generasi muda perlu bertransformasi dari sekadar konsumen menjadi produsen konten kultural, misalnya melalui pembuatan webtoon, animasi legenda lokal, desain aksara Lampung, hingga pengembangan musik tradisional dengan sentuhan modern.

 

Sementara itu, narasumber kedua, Andriansyah, S.Sos., M.Pd., membawakan materi bertajuk “Revitalisasi Bahasa Lampung melalui Literasi Digital dan Inovasi Pendidikan.” Ia mengangkat pentingnya menjadikan teknologi sebagai ruang belajar, berkarya, sekaligus mewariskan bahasa daerah kepada generasi berikutnya.

 

Dalam materinya, Andriansyah menjelaskan bahwa bahasa daerah tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi dan identitas, tetapi juga menyimpan pengetahuan lokal serta merekam pengalaman masyarakat. Hal tersebut tercermin dalam berbagai istilah kekerabatan, pertanian, dan lingkungan yang terdapat dalam bahasa Lampung.

 

Ia juga menguraikan sejumlah tantangan bahasa daerah di era digital, mulai dari dominasi bahasa mayoritas di internet, terbatasnya konten edukasi bahasa daerah, berkurangnya kesempatan penggunaan bahasa daerah, hingga risiko kesalahan penulisan dan informasi bahasa.

 

Menurutnya, pemanfaatan teknologi digital dapat menjadi salah satu upaya untuk memperluas ruang penggunaan bahasa daerah. Namun, pengembangannya perlu disertai ketepatan informasi dan konten edukatif agar bahasa Lampung tetap digunakan secara benar dan sesuai konteks.

 

Melalui seminar ini, mahasiswa diharapkan memperoleh perspektif yang lebih luas mengenai tantangan pelestarian bahasa dan budaya Lampung. Kegiatan ini juga menjadi ruang pertukaran gagasan antara mahasiswa, akademisi, dan narasumber dalam mendorong pemanfaatan teknologi sebagai bagian dari upaya menjaga warisan budaya daerah.

 

Seminar diselenggarakan oleh tujuh mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan Lampung angkatan 2025, yaitu Alek Zulta Anggara, Azizi Iskandar, Berlianna Asih Yustiana, Chintia Shafa Nabila, Jesika Wulandari, Pina, dan Siti Rohima Nur Ulfa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *