
andarlampung (inforial.co) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung akan mengembangkan lahan pertanaman kedelai seluas 1.000 hektare (ha) di Kabupaten Lampung Selatan sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap kedelai impor.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (KPTPH) Provinsi Lampung Elvira Ummihani mengatakan, komoditas kedelai saat ini masih bergantung pada pasokan impor sehingga sangat dipengaruhi kondisi global, termasuk harga.
“Kedelai ini memang masuk dalam komoditas impor, dan faktor yang mempengaruhi harga kedelai tentunya terkait situasi global,” ujar Elvira di Bandarlampung, Kamis.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut membuat pemerintah daerah tidak dapat sepenuhnya mengendalikan harga kedelai di pasar domestik.
“Sehingga perlu dilakukan upaya produksi untuk membantu memenuhi kebutuhan konsumsi kedelai lokal di Lampung,” katanya.
Menurut dia, salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah pengembangan lahan kedelai seluas 1.000 hektare yang akan dilaksanakan pada tahun ini.
“Pengembangan 1.000 hektare kedelai ini akan dilakukan tahun ini dan ditempatkan di Kabupaten Lampung Selatan. Memang belum bisa sepenuhnya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi setidaknya dapat membantu dan ke depan diharapkan bisa terus diperluas,” ujarnya.
Elvira menambahkan, dalam program tersebut juga terdapat dukungan dari Kementerian Pertanian berupa bantuan benih kedelai senilai Rp1 miliar.
Selain itu, ia mendorong pelaku usaha pengolahan kedelai agar dapat melakukan inovasi produk untuk menghadapi fluktuasi harga bahan baku.
“Perajin dan pengolahan kedelai juga bisa melakukan sejumlah inovasi pada produk sebagai upaya menghadapi harga yang kurang stabil,” tambahnya.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, harga kedelai impor secara nasional per Kamis (4/6) tercatat Rp13.655 per kilogram. Sementara itu, harga kedelai di tingkat eceran pasar tradisional di Kota Bandarlampung rata-rata mencapai Rp15.938 per kilogram.

