Menembak mati begal jalanan mungkin dianggap sebagai bentuk ketegasan hukum. Namun, pertanyaan besarnya, bagaimana dengan para ‘begal berdasi’ yang membegal uang rakyat melalui korupsi, manipulasi anggaran, dan kebijakan yang menjauh dari kepentingan publik? Jika begal di jalan disebut kriminal karena merampas harta rakyat dengan kekerasan, lalu apa sebutan bagi mereka yang merampas hak rakyat lewat kekuasaan? Mana yang lebih kejam: mencuri satu motor atau merampas masa depan ribuan orang melalui kebocoran anggaran?

 

Negara juga perlu bercermin. Ketika angka kriminalitas meningkat, kemiskinan melebar, lapangan pekerjaan sulit, pendidikan dan kesejahteraan belum merata,apakah ini tidak menjadi tanda adanya kegagalan dalam menghadirkan keadilan sosial? Kriminalitas tidak lahir dari ruang kosong; ia tumbuh dari ketimpangan, ketidakadilan, dan hilangnya harapan. Tetapi tentu, kemiskinan bukan pembenaran untuk kejahatan. Hanya saja, negara tidak boleh hanya keras di hilir, sementara abai memperbaiki akar persoalan di hulu.

Lalu siapa yang sebenarnya tidak bermoral? Mereka yang terang-terangan merampas di jalanan, atau mereka yang bersumpah mengabdi tetapi diam-diam menggerogoti uang rakyat? Jangan sampai hukum hanya tajam ke bawah, tetapi tumpul ke atas. Sebab keadilan yang dipilih-pilih bukanlah keadilan,melainkan pertunjukan kekuasaan.

Jangan hanya sibuk memburu pelaku kriminal di jalanan, sementara kejahatan yang lebih sistematis dibiarkan tumbuh dalam ruang kekuasaan. Sebab begal paling berbahaya bukan hanya yang membawa senjata, tetapi juga mereka yang berlindung di balik jabatan, regulasi, dan kepentingan. Jika begal jalanan merampas harta satu dua orang, maka begal uang rakyat merampas masa depan satu generasi.

Lalu negara tidak boleh alergi terhadap pertanyaan: apakah tingginya kriminalitas bukan tanda adanya kegagalan menghadirkan keadilan sosial? Ketika rakyat sulit hidup layak, lapangan pekerjaan sempit, harga kebutuhan naik, dan ketimpangan makin nyata,siapa yang harus bertanggung jawab?.

 

Hukum jangan hanya terlihat garang kepada yang lemah, tetapi lunak terhadap yang punya kuasa. Karena rakyat tidak hanya membutuhkan ketegasan, tetapi juga keadilan yang tidak pilih kasih.Begal jalanan ditembak mati, lalu publik diminta tepuk tangan atas nama ketegasan hukum. Tapi pertanyaannya, kapan negara setegas itu terhadap para begal uang rakyat? Mereka yang menggerogoti anggaran, memperkaya diri di atas penderitaan masyarakat, merampas hak pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan rakyat,mengapa seolah lebih sulit disentuh?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *