Bandar Lampung, (Inforial.co) – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Bandar Lampung menggelar aksi solidaritas bertajuk *“1000 Lilin”* pada Sabtu malam (11/04/2026).

Aksi tersebut merupakan bentuk duka cita sekaligus solidaritas atas meninggalnya dua kader Korps PMII Putri (Kopri) Komisariat Universitas Lampung yang terjadi di kawasan wisata Wira Garden beberapa waktu lalu.

Kegiatan yang dipusatkan di Tugu Adipura ini diikuti oleh sekitar 100 peserta dari berbagai elemen mahasiswa. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua PMII Komisariat Universitas Lampung, Muhammad Divka Alfanni.

Acara diawali dengan penyampaian pernyataan sikap dan ungkapan duka oleh Muhammad Divka Alfanni, yang akrab disapa “Dom”. Dalam orasinya, ia menyoroti pentingnya tanggung jawab pengelola tempat wisata terhadap keselamatan pengunjung.

Selain itu, Dom juga membacakan sebuah puisi berjudul *“Bukan Takdir, Bukan Musibah”* yang menjadi bentuk refleksi sekaligus kritik atas peristiwa yang terjadi.

Berikut naskah puisi yang dibacakan:

*Bukan Takdir, Bukan Musibah*

Dua nama terukir di batu sungai,
Tawanya masih bergema di antara riak riuk air.
siang itu kalian pergi menuju langit,
Pulang hanya tinggal berita dan tangis.

Di tempat wisata yang katanya indah,
Alam menagih nyawa tanpa rambu, tanpa peduli.
Rambu tak ada, tangga yang rapuh,
Siapa yang abai ketika maut mengintai?

Kami tak datang hanya bawa bunga,
Kami datang bawa suara.
Untuk tanya: mengapa peringatan tak ada?
Mengapa nyawa lebih murah dari tiket masuknya?

Jangan bilang ini takdir,
Jika tangga rapuh sudah berhari dibiarkan.
Jangan bilang ini musibah,
Jika bahaya sudah berbisik tapi tak didengar.

Keadilan bukan untuk yang telah pergi,
Tapi untuk yang masih berani bermimpi.
Agar tak ada lagi “korban berikutnya”
Tertulis di papan pengumuman pariwisata.

Sahabat, istirahatlah di peluk bumi.
Biar kami yang berdiri,
Menuntut janji yang patah:
Alam boleh dinikmati, tapi nyawa tak boleh diabaikan.

Jika diam berarti setuju,
Maka biarlah puisi ini jadi saksi:
Kami menolak lupa,
Kami membela keadilan, sampai kau kembali hanya jadi kenangan, bukan korban.

Aksi ditutup dengan Penaburan Bunga bersama dan doa untuk para korban. Para peserta berharap kejadian serupa tidak terulang kembali, serta mendesak pihak terkait untuk meningkatkan standar keselamatan di lokasi wisata.

Selain sebagai bentuk penghormatan terakhir, aksi ini juga menjadi pengingat bahwa aspek keselamatan pengunjung harus menjadi prioritas utama dalam pengelolaan destinasi wisata. (Boy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *