Bandarlampung, Jumat (22/5/2026) 20:16 WIB. Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) bersama Pemerintah Provinsi Lampung berkomitmen memperkuat upaya konservasi Harimau Sumatera.

 

Direktur Jenderal KSDAE Kementerian Kehutanan, Satyawan Pudyatmoko, mengatakan berbagai langkah nyata terus dilakukan, mulai dari pengamanan habitat, operasi pemberantasan jerat, hingga patroli rutin untuk menekan konflik antara manusia dan satwa dilindungi tersebut.

 

“Langkah nyata yang terus digalakkan meliputi pengamanan habitat, operasi jerat, hingga patroli rutin guna menekan konflik antara manusia dan satwa dilindungi tersebut,” ujar Satyawan di Bandarlampung, Jumat.

 

Ia menjelaskan, salah satu fokus utama saat ini adalah menindaklanjuti ancaman dari pemburu liar dan perambah yang masih beraktivitas di kawasan hutan Lampung.

 

“Tentu kita mendukung penuh upaya penegakan hukum. Kami juga mengimbau masyarakat di sekitar kawasan agar tidak melakukan perambahan hutan. Jika ada indikasi atau laporan aktivitas ilegal, harus segera diteruskan kepada petugas di lapangan untuk ditindaklanjuti,” katanya.

 

Terkait pemantauan populasi, Satyawan menyebut pihaknya terus melakukan monitoring secara masif di seluruh lanskap habitat Harimau Sumatera, termasuk pemasangan kamera pengintai (camera trap). Meski data masih dalam proses pengumpulan, indikasi keberhasilan konservasi mulai terlihat di lapangan.

 

“Di beberapa tempat, seperti di Way Kambas, baru saja dilaporkan lahir tiga anak harimau di alam liar. Ini membuktikan bahwa dengan pengamanan habitat yang ketat dan patroli pembersihan jerat, Harimau Sumatera dapat berkembang biak,” tambahnya.

 

 

 

Harapan dari Sepasang Harimau “Muli Sikop” dan “Puspa”

 

Sebagai simbol harapan baru pelestarian satwa tersebut, Dirjen KSDAE bersama Wakil Gubernur Lampung memberikan nama pada sepasang Harimau Sumatera yang berada di Lembaga Konservasi (LK), yakni “Muli Sikop” dan “Puspa”.

 

Pemberian nama itu diharapkan menjadi doa agar kedua satwa tersebut dapat dirawat dengan baik dan mampu melahirkan generasi baru.

 

“Nama adalah doa. ‘Muli Sikop’ merupakan nama dari kami di Kementerian Kehutanan, sedangkan ‘Puspa’ diberikan oleh Gubernur Lampung. Keduanya membawa harapan agar satwa ini sehat dan dapat berkembang biak di lembaga konservasi untuk mendukung pelestarian melalui program pelepasliaran,” jelas Satyawan.

 

Kedua harimau tersebut saat ini dirawat di lembaga konservasi karena tidak memungkinkan lagi untuk kembali ke alam liar secara mandiri. Keduanya mengalami penurunan kemampuan berburu akibat cedera fisik, masing-masing harus menjalani amputasi kaki akibat jerat pemburu di masa lalu.

 

 

 

Tantangan Populasi Harimau Sumatera

 

Saat ini, populasi Harimau Sumatera di Indonesia diperkirakan sekitar 600 ekor, tersebar dari Aceh hingga Lampung.

 

Satyawan menyebut harimau ini memiliki daya adaptasi yang cukup tinggi, namun tetap menghadapi sejumlah ancaman utama, di antaranya alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian yang memicu konflik manusia dan satwa.

 

Selain faktor manusia, penurunan populasi juga pernah dipengaruhi wabah African Swine Fever yang menyerang babi hutan sebagai pakan alami harimau di Sumatera.

 

Namun demikian, Kementerian Kehutanan memastikan ketersediaan pakan saat ini mulai pulih.

 

Melalui sinergi antara Kementerian Kehutanan, Pemerintah Provinsi Lampung, dan masyarakat, diharapkan risiko konflik manusia dan satwa dapat ditekan demi menjaga kelestarian Harimau Sumatera.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *