Bandarlampung – Pemerintah Provinsi Lampung memperkuat berbagai langkah strategis untuk mengendalikan penyakit menular dan tidak menular, terutama campak, tuberkulosis (TBC), dan malaria yang masih menjadi perhatian di daerah tersebut.

 

Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, mengatakan upaya yang dilakukan antara lain memaksimalkan surveilans campak, meningkatkan cakupan imunisasi, memperkuat kerja sama lintas sektor, serta mengintensifkan edukasi kepada masyarakat guna menangkal hoaks terkait vaksinasi.

 

“Pemerintah Provinsi Lampung akan memperkuat berbagai langkah strategis, di antaranya memaksimalkan surveilans campak dan meningkatkan cakupan imunisasi,” ujar Jihan Nurlela di Bandarlampung, Selasa.

 

Selain itu, pemerintah daerah juga akan menyusun strategi jangka pendek yang lebih terarah, termasuk memperkuat dukungan anggaran sektor kesehatan melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Lampung serta mendorong keterlibatan komunitas dalam membantu identifikasi kasus dan percepatan capaian imunisasi.

 

Menurut dia, sinergi antara puskesmas, rumah sakit, dan dinas kesehatan menjadi faktor penting dalam memperkuat sistem pelaporan dan penanganan penyakit menular.

 

“Melalui penguatan koordinasi, peningkatan cakupan imunisasi, serta keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, diharapkan penanganan penyakit menular di Provinsi Lampung dapat berjalan lebih optimal,” katanya.

 

Pemerintah Provinsi Lampung juga akan melakukan koordinasi lanjutan guna memastikan berbagai strategi yang telah disusun dapat segera diterapkan secara efektif di lapangan.

 

Kasus Campak dan TBC Masih Jadi Perhatian

 

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Lampung hingga April 2026, tercatat sebanyak 281 kasus positif campak. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, salah satunya dipengaruhi oleh semakin intensifnya pelacakan dan pemeriksaan terhadap kasus suspek.

 

Meski demikian, cakupan imunisasi campak di sejumlah wilayah masih belum merata. Padahal, untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity) dan mencegah kejadian luar biasa (KLB), cakupan imunisasi minimal harus mencapai 95 persen.

 

Rendahnya cakupan imunisasi dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain penyebaran hoaks mengenai vaksin di media sosial, penolakan imunisasi oleh sebagian kelompok masyarakat, kekhawatiran orang tua terhadap efek samping imunisasi, serta masih rendahnya pemahaman bahwa imunisasi tetap dapat diberikan kepada anak yang berusia lebih dari satu tahun.

 

Sementara itu, estimasi kasus TBC di Provinsi Lampung hingga April 2026 mencapai 30.745 kasus. Tingkat penemuan kasus baru mencapai 11,3 persen dari total estimasi kasus, meskipun tingkat keberhasilan pengobatan tergolong tinggi, yakni sebesar 90 persen.

 

Selain itu, sekitar 82 persen pasien TBC sensitif obat telah memulai pengobatan sesuai standar. Namun, upaya pengendalian penyakit masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan tenaga pengelola program, sarana dan laboratorium kesehatan, kondisi geografis wilayah, serta belum optimalnya keterlibatan fasilitas kesehatan swasta dalam pelaporan kasus.

 

Pemerintah Provinsi Lampung menegaskan akan terus memantau perkembangan kasus serta memperkuat langkah pencegahan dan pengendalian guna menekan penyebaran penyakit menular dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *