
Bandar Lampung (inforial.co) — Badan Karantina Indonesia terus mendorong peningkatan ekspor tapioka asal Lampung agar mampu menembus pasar global sebagai salah satu komoditas unggulan daerah dalam mendukung akselerasi perdagangan nasional.
Berdasarkan data ekspor Karantina Lampung tahun 2025, sebanyak 22,4 ribu ton tapioka asal Lampung telah berhasil diekspor ke sejumlah negara, antara lain Tiongkok, Selandia Baru, Filipina, dan Taiwan. Capaian ini menunjukkan tingginya permintaan pasar internasional terhadap produk turunan singkong dari daerah tersebut.
“Hal ini terus kami dorong bersama pemerintah daerah Lampung serta instansi terkait dalam akselerasi ekspor komoditas daerah,” ujar pejabat Pelaksana Tugas Deputi Bidang Karantina Tumbuhan dalam keterangan di Bandar Lampung, Selasa.
Memasuki triwulan pertama 2026, Lampung juga telah mengirim sekitar 1.000 ton tapioka ke Malaysia dan Selandia Baru. Selain itu, sebanyak 3.330 ton tapioka dengan nilai sekitar Rp26 miliar kembali berhasil menembus pasar Tiongkok.
Barantin menegaskan peran penting sistem karantina dalam memastikan kualitas dan keamanan produk ekspor. Melalui proses pemeriksaan dan sertifikasi, produk tapioka dipastikan memenuhi standar kesehatan tumbuhan serta persyaratan negara tujuan. Sertifikat yang diterbitkan menjadi jaminan mutu sekaligus meningkatkan kepercayaan pasar internasional.
Menurut pernyataan Drama Panca Putra, penguatan ekspor harus didukung sistem terintegrasi dari hulu hingga hilir. Ia menyebut hilirisasi sebagai kunci kemandirian industri sesuai arahan Presiden dalam Asta Cita.
“Barantin berperan sebagai penjamin mutu sekaligus fasilitator perdagangan untuk memastikan setiap produk, termasuk turunan singkong, memenuhi standar keamanan pangan negara tujuan,” ujarnya.
Dukungan ekspor juga diperkuat oleh kolaborasi lintas instansi, termasuk Pelindo yang menyediakan layanan kepelabuhanan, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang mempercepat proses kepabeanan, serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan Dinas Ketahanan Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung.
Sinergi tersebut dinilai menciptakan ekosistem perdagangan yang lebih efisien, mulai dari layanan pelabuhan hingga fasilitasi pelaku usaha.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menekankan pentingnya momentum ekspor ini untuk memperkuat tata niaga singkong secara menyeluruh. Ia berharap stabilitas harga dan kepastian pasar bagi petani dapat terus terjaga melalui penguatan sinergi lintas sektor.
“Kami ingin ekosistem singkong dan tapioka di Lampung menjadi lebih inklusif. Semakin petani sejahtera, industri juga akan tumbuh lebih kuat,” ujarnya.

