
Inforial.co – Mesuji dikabarkan kembali memanas! Berita kerusuhan antar dua kelompok warga di Dipok Karya Tani KHP Register 45, ramai menghiasi beberapa media lokal, Selasa (24/12/2019).
Dalam pemberitaan disebutkan, akibat bentrokan itu satu orang mengalami luka dibagian kepala sehingga mesti menjalani perawatan di rumah sakit. Selain itu, satu rumah dikabarkan rusak.
Setelah bentrok di Mesuji ramai dalam pemberitaan, Polda Lampung memberikan tanggapan atas ramainya pemberitaan media. Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Pol. Zahwani Pandra Arsyad, menjelaskan jika permasalahan keributan antar warga di Mesuji disebabkan karena salah paham.
Terlepas apa penyebabnya, yang jelas berita kerusuhan di Mesuji patut menjadi perhatian semua pihak. Apalagi peristiwa tersebut terjadi tepat menyambut perayaan Natal umat Kristiani. Sungguh sangat memilukan.
Kabar kerusuhan di Register 45, Mesuji, bukan persoalan baru. Namun sepertinya belum menjadi perhatian serius para pemangku kebijakan. Bahkan, kondisi bentrok di Mesuji dan perhatian dari para pihak pemangku kebijakan pernah diabadikan Wakil Ketua Bidang Pendidikan PWI Provinsi Lampung, Wirahadikusumah, dalam tulisan berjudul “Ranjau di Mesuji”.
Jika melihat peristiwa hari ini, tulisan “Ranjau di Mesuji” yang ditulis pada Juli 2019 lalu itu ternyata mengarah pada kebenaran. Dan akan selalu demikian jika tidak disikapi secara serius oleh para pemangku kebijakan.
Sekedar untuk mengingatkan, Inforial.co kembali menayangkan tulisan “Ranjau di Mesuji” dengan harapan masalah tersebut dapat segera diselesaikan. Berikut tulisanya;
Ranjau di Mesuji
Oleh: Wirahadikusumah
Empat orang tewas, puluhan lainnya luka-luka. Demikian berita dari media-media online yang saya baca, Selasa (17/7/2019).
Lokasinya? Register 45 Mesuji.
Pemicunya? Konflik lahan.
Entah sudah berapa kali saya mendengar bentrok warga di kabupaten ini. Entah juga sudah berapa nyawa melayang akibat rebutan lahan di sana.
Pada 2010, tepatnya dua pekan lagi saya akan menikah, saya pernah ditugaskan menginvestigasi persoalan konflik lahan di Mesuji. Ketika masih bekerja di koran itu.
Kala itu, selama empat hari menginap di sana, saya masuk ke kawasan hutan register 45 Mesuji. Menginventarisasi persoalan yang terjadi di sana. Mewawancarai warga yang mendiami kawasan register. Termasuk pihak perusahaan yang mendapatkan izin HGU di kawasan tersebut.
Saat itu, saya merasakan seperti ada puluhan “ranjau” yang tertanam di sana. Yang kapan pun bisa meledak. Ketika ada yang menginjak: Duarrrrrrrr. Korban pun bergelimpangan.
Ternyata, hingga kini, “ranjau-ranjau” itu masih tertanam di sana. Entah mengapa belum dibersihkan.
Padahal, setiap kali ada “ranjau” meledak di sana, aparat keamanan tak tinggal diam. Begitupun pemerintah daerah. Pasti semuanya sibuk. Ratusan personil langsung diturunkan. Berjaga berminggu-minggu. Bisa sampai berbulan-bulan. Jika dirasa sudah kondusif, mereka kembali ke markas.
Orang-orang yang diduga terlibat bentrok juga diamankan. Lalu diperiksa. Kemudian diproses.
Ya, begitulah yang dilakukan setiap ada bentrok di sana. Seperti kerja tim penjinak bom. Saat mendapatkan laporan ada bom, langsung datang ke lokasi, lalu menjinakkan, kemudian bom dibawa ke tempat aman. Selanjutnya diledakkan. Selesai.
Padahal masih ada “ranjau” aktif yang tertanam. Yang saya yakin mereka tahu itu. Namun, tidak bisa “dijinakkan”, karena “alat” yang dimiliki tidak lengkap. Harus mendatangkan dari Jakarta.
Mereka bukannya tidak melaporkan masih adanya “ranjau” itu ke Jakarta. Saya yakin sudah berulang-ulang disampaikan. Dan mungkin sudah beberapa kali dibahas di ibu kota.
Tetapi, sampai dengan saat ini, eksekusinya sepertinya belum terasa. Buktinya, “ranjaunya” masih tertanam di sana.
Entah sampai kapan konflik lahan di Mesuji ini terus terjadi.
Harusnya ada gerakan sapu bersih “ranjau”. Yang bukan hanya dilakukan aparat keamanan dan pemerintah di Lampung. Tetapi juga pemerintah pusat.
Sebab, yang memiliki “alat” penyapu bersih “ranjau” itu pemerintah pusat. Karena lahan yang berkonflik itu milik negara. Statusnya kawasan register.
Semoga adanya bentrok kemarin, kembali membuka mata pemerintah pusat, terkait masih adanya “ranjau” di Mesuji ini.
Semoga mereka juga segera menurunkan “alat” penyapu bersih “ranjau” tersebut. Sehingga bentrok yang kemarin, menjadi yang terakhir terjadi di Mesuji.
Ya….Semoga. (whk)

