BANDAR LAMPUNG – Aroma kopi Robusta mengepul hangat di atas meja kayu di teras belakang kediaman Prof. Dr. dr. Asep Sukohar, M.Kes., Sp.KKLP., Minggu sore. Langit Bandar Lampung perlahan meredup, menyisakan semburat jingga di ufuk barat.

Namun, suasana tenang sore itu berbanding terbalik dengan situasi di dunia maya. Sejak beberapa hari terakhir, linimasa media sosial khususnya TikTok diramaikan oleh puluhan akun anonim (bodong) yang secara masif mendaur ulang isu lama seputar persidangan tahun 2023. Isu itu digoreng kembali untuk mendiskreditkan pencalonannya dalam Pemilihan Rektor (Pilrek) Universitas Lampung (Unila) periode 2027–2031.

Sebagai jurnalis yang datang untuk meliput langsung dinamika ini, saya melihat gurat ketabahan di wajah sang profesor. Meski diterpa tekanan psikologis yang tidak ringan, ia menyambut saya dengan senyum tenang dan mempersilakan duduk.

“Silakan diminum kopinya, Mas. Kopi Lampung asli biar kita ngobrolnya lebih santai,” buka Prof. Asep mengawali perbincangan, Minggu, 1 November 2026.

Tanpa berlama-lama, saya langsung membawa percakapan pada isu yang tengah santer diperbincangkan publik.

“Prof, akhir-akhir ini media sosial ramai dengan serangan akun-akun anonim yang kembali mengungkit persidangan tahun 2023. Bagaimana Profesor menanggapi narasi yang terus berputar ini?” tanya saya langsung.

Prof. Asep menghela napas panjang, meletakkan cangkirnya perlahan, lalu menatap lurus ke depan. Tidak ada nada emosi atau kemarahan, yang ada hanyalah ketegasan seorang akademisi yang ingin meluruskan duduk perkara secara objektif.

Ia mengambil napas, lalu merinci fakta yang sebenarnya. “Di persidangan Januari 2023 itu, saya hadir murni sebagai saksi. Catat itu baik-baik, saksi! Saya tidak pernah berstatus sebagai tersangka, terdakwa, atau terpidana. Kehadiran saya di sana justru bentuk sikap kooperatif saya untuk membantu penegak hukum. Membuka seterang-terangnya perkara masa lalu demi kebersihan institusi Unila. Apakah membantu penegak hukum itu sebuah kejahatan? Justru itu bukti komitmen saya terhadap transparansi,” tegasnya.

Saya mengangguk, mencatat setiap kata yang diucapkannya. Saya kemudian mengejar pertanyaan berikutnya untuk menutup celah keraguan publik terkait proses pencalonannya.

“Lalu bagaimana dengan proses seleksi calon rektor saat ini, Prof?” kejar saya, memastikan semua celah keraguan publik terjawab tuntas.

Prof. Asep menjawab dengan mantap, tanpa ragu sedikit pun. “Saya tidak maju secara sembunyi-sembunyi. Pencalonan saya telah melewati seluruh tahapan verifikasi administrasi yang sangat ketat dan transparan oleh Panitia Pemilihan Rektor Unila serta instansi berwenang. Kalau secara hukum dan regulasi saya memenuhi syarat mutlak untuk maju, dari mana dasar hukum akun-akun anonim itu mendiskualifikasi hak saya? Jelas ini bukan soal aturan, ini soal kepanikan,” urainya tegas.

Suasana teras mendadak hening sejenak. Angin sore berembus pelan, menerbangkan sisa-sisa keresahan. Di tengah iklim kontestasi kampus yang kerap diwarnai intrik, sikap yang ditunjukkan Prof. Asep justru memperlihatkan kedewasaan berpikir.

Ketika saya bertanya ihwal langkah selanjutnya menghadapi fitnah yang bertubi-tubi ini, ia menjawab dengan kalimat yang menyentuh nurani. “Biarlah mereka memfitnah, biarlah narasi itu berputar di luar sana. Saya pasrahkan semuanya kepada Allah SWT,” ucapnya lirih namun penuh keyakinan.

“Niat saya hanya satu. Saya ingin mengabdi dan mendedikasikan diri untuk membangun Unila agar lebih unggul, berintegritas, dan melayani. Jabatan bukanlah segalanya yang harus diraih dengan menghalalkan segala cara. Kalau Allah izinkan, jalan itu pasti terbuka. Kalau pun tidak, pengabdian tidak harus berhenti di kursi rektor,” papar Prof. Asep penuh wibawa.

Obrolan sore itu ditutup dengan sebuah refleksi mendalam. Bagi Prof. Asep, kampus seharusnya tetap menjadi rumah peradaban. Tempat melahirkan akal budi yang sehat dan menjunjung tinggi integritas, bukan pabrik hoaks dan arena pembunuhan karakter.

Malam perlahan turun di Bandar Lampung. Di teras itu, secangkir kopi dingin menyisakan kehangatan tentang arti ketulusan, keberanian menghadapi fakta hukum, dan kepasrahan total kepada Sang Pencipta di tengah panasnya konstalasi pemilihan rektor Unila. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *