PALEMBANG – Langit di kawasan Palembang Bukit Kecil, khususnya di sekitar Simpang Icon City, Kota Palembang, mendadak menjadi sorotan serius pada 08 Oktober 2026 pukul 11:00:00.

Berdasarkan pantauan langsung dari situs resmi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), kualitas udara di wilayah tersebut terpantau berada pada level Berbahaya dengan angka indeks yang sangat tinggi, yakni mencapai 1055.

Kondisi udara yang pekat ini didominasi oleh lonjakan partikel debu halus dan polutan berbahaya. Parameter PM10 tercatat menyentuh angka 1055, sementara partikulat yang lebih halus dan berbahaya bagi paru-paru, yaitu PM2,5, berada di angka 522. Di sisi lain, parameter gas pencemar lainnya seperti SO2 (27), CO (13), O3(23), dan NO2 (29) terpantau dalam kondisi relatif stabil namun tetap berada di tengah situasi polusi yang luar biasa pekat.

Melihat angka indeks yang melampaui ambang batas normal ini, otoritas lingkungan menegaskan bahwa tingkat kualitas udara saat ini sudah dapat merugikan kesehatan serius pada populasi dan perlu penanganan cepat. Warga setempat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan demi menghindari ancaman gangguan kesehatan jangka pendek maupun panjang akibat paparan udara ekstrem tersebut.

Sebelumnya, Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Faisal Malik Hendropriyono yang melakukan kunjungan kerja ke Palembang juga merasakan dampaknya. Dia mengaku asap mulai dirasakan sejak dirinya mendarat Rabu pagi di Palembang.

Kondisi itu, disebutnya harus menjadi perhatian. Penanganan karhutla di Sumsel dimintanya dilakukan lebih masif, agar dapat mengurangi dampak asap.

“Kita mohon maaf kepada masyarakat Palembang dan Sumsel bahwa (bencana asap akibat karhutla) ini terjadi. Terhirup sih memang (asapnya),” ujarnya, Rabu (7/10/2026).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *